Manusia dan Kreasinya
Seni kriya dalam wayang kulit
Dalam
pembahasan ini saya akan membahas seni kriya dalam wayang kulit,Seni kriya
menjadi penting dalam wayang karena watak dan karakter tokoh wayang ditentukan
oleh ciri detail bentuk dan wajahnya Dalam
perkembangannya bentuk dan pewatakan tokoh wayang mengalami perubahan sesuai
jamannya. halnya dalam pertunjukan wayang, seni kriya juga mengandung filsafat
dan gambaran jiwa.Kesenian bagi masyarakat Jawa merupakan representasi simbolis dari
keadaan batin manusia.Seni kriya menjadi salah satu media representasi
ini. Wayang penuh dengan makna dan
simbol yang membuat seni kriya menjadi penting untuk diperhatikan.Seni kriya
memperhatikan setiap bagian seorang tokoh wayang mulai dari wajah,
perlengkapan, pakaian, dan bagian-bagian tubuh wayang itu.
PENGERTIAN
Wayang seni adalah wayang yang dibuat
pertama-tama demi nilai seni. Wayang
seni membutuhkan seni kriya yang rumit karena menuntut hasil karya yang
bernilai seni tinggi. [1] Baik tatahan atau
pahatan maupun pewarnaannya memerlukan ketelitian. Setiap millimeter kulit yang digarap
diberi pewarnaan yang rumit dan halus.
Berikut
ini proses pembuatan wayang kulit :
1.Kulit Kerbau
Kulit kerbau memang bahan yang terbaik untuk pembuatan wayang kulit
karena memang jenis kulit kerbau lebih lunak saat di tatah daripada kulit sapi,
alasan yang kedua adalah untuk pasar eropa kulit kerbau juga lebih baik, karena
jika produk kerajinan wayang kulit berbahan kulit sapi tidak bagus dalam suhu
dingin, akan terjadi perubahan tekstur kulit. Sedang wayang kulit yang berbahan
kulit kerbau tidak terpengaruh oleh perbedaan suhu.
Pengolahan kulit
Direndam dengan air selama satu hari sampai
lunak.Kemudian direntangkan atau dipentangkan dengan menggunakan tali dan pigura kayu yang kuat.
Selanjutnya kulit tersebut dijemur di bawah terik matahari sampai benar-benar kering. Kulit yang sudah kering segera ditipiskan dengan cara dikerok. Bagian yang dikerok adalah bagian rambut (bagian luar) dan sisa-sisa daging yang masih melekat (bagian dalam). Kulit dikerok dengan menggunakan pisau atau pethel sedikit demi sedikit secara hati-hati. Kulit bagian dalam dikerok terlebih dahulu dan lebih banyak dikurangi agar diperoleh kulit yang berkualitas. Setelah itu, baru dilanjutkan pengerokan kulit bagian luar. Pengerokan kulit bagian luar hanya sedikit saja karena bila dilakukan pengurangan terlalu banyak maka kulit yang dihasilkan akan menjadi mudah patah bila dilipat. Bila perlu, pada bagian ini hanya dihilangkan rambut-rambutnya saja dan dibersihkan dengan air. Terdapat beberapa metode yang digunakan untuk mempermudah pengerokan rambut pada kulit, seperti merendam kulit dengan air mendidih, dan dengan menggunakan air kapur sebelum dipentangkan. Torehan pisau pada proses pengerokan hanya dilakukan satu arah dari atas ke bawah. Setelah kulit ditipiskan, sisa-sisa kerokan dibersihkan dengan air dan bagian yang dikerok dihaluskan dengan amplas. Selanjutnya, dijemur di panas sinar matahari lagi hingga kering secara merata.
2. Tatah ( pahat )
Proses Pengukiran (Tatahan)
Setelah bahan yang akan dipergunakan untuk membuat wayang dipersiapkan,
maka proses selanjutnya adalah pengukiran (tatah). Di samping itu akan
diuraikan pula alat-alat yang dipergunakan.
Proses ukir dalam membuat wayang kulit
Proses nyorek (corek), yaitu membuat sketsa atau membuat gambar wayang
pada sehelai kulit yang tlah disediakan. Proses kegiatan ini ada dua cara,
pertama adalah : dengan cara “ngeblak”, yaitu membuat wayang dengan menggunakan
pola dari wayang yang sudah ada. Caara ini dapat menghindari perubahan bentuk
wayang kulit yang telah baik, serta dapat memungkinkan pembuatan wayang yang
sama sebanyak-banyaknya. Proses cara ‘ngeblak’ tersebut adalah sebagai berikut:
Wayang yang menjadi pola ditempelkan pada sehelai kulit yang telah disediakan
kemudian digambar menurut bentuk pola tersebut. Bila wayang yang menjadi pola
(yang diblak) diambil, yang tertinggal ialah gambar sketsa bentuk wayang yang
sama dengan pola atau blaknya.
Alat alat tatah wayang :
1.
Pahat pembubuk dengan ujung setengah
lingkaran. Jumlah pahat seluruhnya adalah 35 buah
2.
Kayu landasan
3.
Kayu pemukul
4.
Lilin pelicin
5.
Batu pengasah
3. Sungging ( pewarnaan )
Proses Sungging
Di dalam proses sungging yang perlu mendapat perhatian adalah cara
mencampur warna dengan baik, menghaluskan kulit sebelum didasari dan
pembuatan ancur yang sesuai dengan kebutuhan. Wayang yang akan disungging
terlebih dahulu harus dihaluskan dengan cara menggosok dengan menggunakan botol
atau alat lain, agar kulit licin dan bekas pahat rata kembali. Sehingga bila
warna dikuaskan akan melekat lebih kuat.
Pembuatan ancur (pelekat) yang baik adalah sebagai berikut:
Lempengan-lempengan ancur direndam dlam cairan Londho (soda), supaya
lempengan tadi lunak atau mudah hancur, kemudian dipanaskan sampai mendidih
berulang-ulang. Selama dipanaskan, diaduk-aduk terus-menerus agar rata dan
tidak hangus. Sehingga menjadi kental dan lekat, terutama anur yang akan digunakan
untuk ‘prada’ dan ‘ngedus’.
Dalam pembuatan ancur yang perlu diperhatikan adalah api, yang harus
kecil. Agar ancur tidak cepat hangus, diusahakan agar selama merebus dan setiap
kali mulai membuih segera diangkat dari api, dan kemudian diaduk-aduk kembali
guna mencegah terjadinya pengkristalan ancur pada permukaan larutan.
Untuk warna putih dan warna hitam pada umumnya menggunakan ancur
‘mentah’, yaitu lempengan ancur dicampur dengan bahan warna dan air kapur.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar