Rabu, 19 November 2014




Manusia dan Kreasinya

Seni kriya dalam wayang kulit
 Dalam pembahasan ini saya akan membahas seni kriya dalam wayang kulit,Seni kriya menjadi penting dalam wayang karena watak dan karakter tokoh wayang ditentukan oleh ciri detail bentuk dan wajahnya Dalam perkembangannya bentuk dan pewatakan tokoh wayang mengalami perubahan sesuai jamannya. halnya dalam pertunjukan wayang, seni kriya juga mengandung filsafat dan gambaran jiwa.Kesenian bagi masyarakat Jawa merupakan representasi simbolis dari keadaan batin manusia.Seni kriya menjadi salah satu media representasi ini. Wayang penuh dengan makna dan simbol yang membuat seni kriya menjadi penting untuk diperhatikan.Seni kriya memperhatikan setiap bagian seorang tokoh wayang mulai dari wajah, perlengkapan, pakaian, dan bagian-bagian tubuh wayang itu. 

PENGERTIAN

Wayang seni adalah wayang yang dibuat pertama-tama demi nilai seni. Wayang seni membutuhkan seni kriya yang rumit karena menuntut hasil karya yang bernilai seni tinggi. [1] Baik tatahan atau pahatan maupun pewarnaannya memerlukan ketelitian. Setiap millimeter kulit yang digarap diberi pewarnaan yang rumit dan halus. 
Berikut ini proses pembuatan wayang kulit :
1.Kulit  Kerbau
Kulit kerbau memang bahan yang terbaik untuk pembuatan wayang kulit karena memang jenis kulit kerbau lebih lunak saat di tatah daripada kulit sapi, alasan yang kedua adalah untuk pasar eropa kulit kerbau juga lebih baik, karena jika produk kerajinan wayang kulit berbahan kulit sapi tidak bagus dalam suhu dingin, akan terjadi perubahan tekstur kulit. Sedang wayang kulit yang berbahan kulit kerbau tidak terpengaruh oleh perbedaan suhu.
Pengolahan kulit
Direndam dengan air selama satu hari sampai lunak.Kemudian direntangkan atau dipentangkan dengan menggunakan tali dan pigura kayu yang kuat.










Selanjutnya kulit tersebut dijemur di bawah terik matahari sampai benar-benar kering. Kulit yang sudah kering segera ditipiskan dengan cara dikerok. Bagian yang dikerok adalah bagian rambut (bagian luar) dan sisa-sisa daging yang masih melekat (bagian dalam). Kulit dikerok dengan menggunakan pisau atau pethel sedikit demi sedikit secara hati-hati. Kulit bagian dalam dikerok terlebih dahulu dan lebih banyak dikurangi agar diperoleh kulit yang berkualitas. Setelah itu, baru dilanjutkan pengerokan kulit bagian luar. Pengerokan kulit bagian luar hanya sedikit saja karena bila dilakukan pengurangan terlalu banyak maka kulit yang dihasilkan akan menjadi mudah patah bila dilipat. Bila perlu, pada bagian ini hanya dihilangkan rambut-rambutnya saja dan dibersihkan dengan air. Terdapat beberapa metode yang digunakan untuk mempermudah pengerokan rambut pada kulit, seperti merendam kulit dengan air mendidih, dan dengan menggunakan air kapur sebelum dipentangkan. Torehan pisau pada proses pengerokan hanya dilakukan satu arah dari atas ke bawah. Setelah kulit ditipiskan, sisa-sisa kerokan dibersihkan dengan air dan bagian yang dikerok dihaluskan dengan amplas. Selanjutnya, dijemur di panas sinar matahari lagi hingga kering secara merata.

2. Tatah ( pahat )
Proses Pengukiran (Tatahan)
Setelah bahan yang akan dipergunakan untuk membuat wayang dipersiapkan, maka proses selanjutnya adalah pengukiran (tatah). Di samping itu akan diuraikan pula alat-alat yang dipergunakan.
Proses ukir dalam membuat wayang kulit





Proses nyorek (corek), yaitu membuat sketsa atau membuat gambar wayang pada sehelai kulit yang tlah disediakan. Proses kegiatan ini ada dua cara, pertama adalah : dengan cara “ngeblak”, yaitu membuat wayang dengan menggunakan pola dari wayang yang sudah ada. Caara ini dapat menghindari perubahan bentuk wayang kulit yang telah baik, serta dapat memungkinkan pembuatan wayang yang sama sebanyak-banyaknya. Proses cara ‘ngeblak’ tersebut adalah sebagai berikut: Wayang yang menjadi pola ditempelkan pada sehelai kulit yang telah disediakan kemudian digambar menurut bentuk pola tersebut. Bila wayang yang menjadi pola (yang diblak) diambil, yang tertinggal ialah gambar sketsa bentuk wayang yang sama dengan pola atau blaknya.

Alat alat tatah wayang :
1.     Pahat pembubuk dengan ujung setengah lingkaran. Jumlah pahat seluruhnya adalah 35 buah
2.    Kayu landasan
3.    Kayu pemukul
4.    Lilin pelicin
5.    Batu pengasah

3. Sungging ( pewarnaan )
Proses Sungging
Di dalam proses sungging yang perlu mendapat perhatian adalah cara mencampur warna dengan baik, menghaluskan  kulit sebelum didasari dan pembuatan ancur yang sesuai dengan kebutuhan. Wayang yang akan disungging terlebih dahulu harus dihaluskan dengan cara menggosok dengan menggunakan botol atau alat lain, agar kulit licin dan bekas pahat rata kembali. Sehingga bila warna dikuaskan akan melekat lebih kuat.
Pembuatan ancur (pelekat) yang baik adalah sebagai berikut:
Lempengan-lempengan ancur direndam dlam cairan Londho (soda), supaya lempengan tadi lunak atau mudah hancur, kemudian dipanaskan sampai mendidih berulang-ulang. Selama dipanaskan, diaduk-aduk terus-menerus agar rata dan tidak hangus. Sehingga menjadi kental dan lekat, terutama anur yang akan digunakan untuk ‘prada’ dan ‘ngedus’.
Dalam pembuatan ancur yang perlu diperhatikan adalah api, yang harus kecil. Agar ancur tidak cepat hangus, diusahakan agar selama merebus dan setiap kali mulai membuih segera diangkat dari api, dan kemudian diaduk-aduk kembali guna mencegah terjadinya pengkristalan ancur pada permukaan larutan.
Untuk warna putih dan warna hitam pada umumnya menggunakan ancur ‘mentah’, yaitu lempengan ancur dicampur dengan bahan warna dan air kapur.


Sabtu, 08 November 2014


PUISI

HARAPAN HATI

Desah suara
Desah jiwa
Desah tangis
Mengiris hati

Luka hati membekas diri
Rasa ini tak terelakan lagi
Saat teriang goresan hati
Menahan tangis yang tak henti
Menunggu kasih yang tak pasti

Kini fajar mulai terbit
Harapan kini akan bangkit
Menuju mentari di atas langit
Cerahkan cahya hati yang terkait

                                                By:Winny Emil



SENANDUNG CINTA AWAL PERTEMUAN

Cinta terkadang memang datang tiba tiba
Tak menyangka kini kau yang ku damba
Banyak kata yang sulit terlupa
Melihatmu ku tersipu merona

                  Aku tersentuh dengan perhatianmu
                  Kau menemaniku dengan ketulusanmu
                  Bagiku kau obat masalaluku
                  Ku terteduh saat bersamamu

Kini ku sadar arti ketulusan
Kau uangkapkan dengan kejujuran
Mengandung serangkaian kata pengertian
Senandung cinta yang ku rasakan
       
                                                        BY:WINNY EMIL