Selasa, 28 Oktober 2014


KARYA SASTRA CERPEN


                        “DATANGNYA DAN PERGINYA” KARYA A.A NAVIS”

KARYA A.A NAVIS,sebuah cerpen yang berjudul”DATANG DAN PERGINYA” yang memmbahas tentang kehidupan sehari-hari dalam masyarakat .Tema yang terkandung dalam cerpen ini adalah Dosa di masalalu. dalam cerita ini di gambarkan dari seorang tokoh utama yang masalalunya sering bermain dengan wanita jalang sepeninggalan istrinya. Akibat kelakuannya itulah yang menyebabkan pernikahan sedarah di antara kedua anaknya. Ayah masri pun memiliki sifat tinggi hati. Wataknya yang keras, dan egois sangat tergambar dalam cerita ini. Ia rela mengusir Masri, karena Ia merasa Masri telah mempermalukannya di depan perempuan jalang. Saat Ia mengetahui Masri menikah dengan anaknya sendiri Ia sangat inigin memberitahukan tentang itu kepada Masri dan Arni.  Dapat dikutip sebagai berikut:

“Kurang ajar kau. Bikin malu. Ayo, pergi. Kau bukan anakku lagi!”
“aku harus memberitahu mereka. Setelah itu mereka harus bercerai. Ini mesti”
“sifat-sifatku yang tinggi hati, karena malu minta maaf kepada orang yang lebih muda. Aku insaf sekarang, kesombongan itulah menghancurkan kehidupanku selama ini..” ini ditinggal mati oleh istrinya ketika Masri berumur tiga tahun. Kemudian ayah Masri pun menikah lagi. Tapi perkawinan itu malah merusakkan hatinya yang selalu mengenang kisah hidupnya saat bersama ibu Masri. Masri menikah dengan Armi, anak dari Iyah seorang perempuan yang pernah menjadi istri dan kemudian diusir oleh Ayah Masri. Sekarang, Iya ternyata telah menjadi mertua Masri. Masri dan Arni ternyata saudara sekandung. Ayah Masri sekarang telah menjadi orang yang taat kepada Allah dan takut akan dosa-dosa yang telah ia perbuat. Ketika mengetahui hal tersebut, Ayah Masri akan memberitahukan hal itu kepada Masri dan Arni. Namun ia ditantang oleh Iyah. Maksud dari cerpen karya AA Navis ini adalah kebingungan untuk mengutamakan nilai kemanusiaan atau nilai agama. Alur yang terdapat pada cerpen Datangnya Dan Perginya adalah alur campuran. Cerita bermula dari surat yang dikirim Masri kepada ayahnya, sehingga memunculkan bayangan ayahnya kepada peristiwa-peristiwa dimasa lalunya yang menyebabkan dirinya merasa bersalah dan sangat meridukan Masri. Pemunculan konflik dalam cerita ini yaitu pada saat Ayah Masri ditinggal oleh istrinnya meninggal dunia, saat istrinya meninggal dunialah pemunculan kinflik itu, tokoh Ayah masri ini merasa tidak sanggup hidup sendiri, ia selalu merasa bahagia tidak mungkin datang kepadanya, dan selalu merasa kesepian sehingga ia mengisi kehampaannya dengan dambaan perempuan jalang, saat Masri melihat ayahnya dalam rangkulan perempuan jalang. Kehadiran Masri menjadi olok-olok perempuan yang dibayarnya, ia merasa terhina dan marah sekali tapi sianaklah yang menjadi sasaran marahnya, sehingga ia rela mengusir anaknya sendiri. Peningkatan konflik dalam cerita ini ketika Ayah masri tiba di rumah Masri, anaknya yang sudah lama tidak bertemu, namun orang yang pertama kali ditemuinya adalah seorang perempuan tua yang bertubuh kurus yang menyambutnya dengan kasar, perempuan itu adalah Iyah mantan istrinya. Klimaks dalam cerita ini saat Iyah memberi tahukan bahwa Masri menikah dengan anak Iyah yang juga anak Ayah masri, perdebatan pun terjadi tentang perkawinan sedarah antara Masri dan Arni, tahap penyelesaian dalam cerita ini saat Ayah masri pergi meninggalkan rumah Masri dan ia tidak ingin kedatangannya diketahui oleh siapapun.Yang pada akhirnya seorang ayah lebih memilih perasaaan kemanusiannya walaupun itu bertentangan dengan keimanan kepada tuhannya . Seorang ayah dan suami yang mengalami hidup penuh dengan pertengkaran dan tidak pernah mengalami kebahagian dalam rumah tangga walaupun ia sudah menikah berkali-kali. Kemudian ia pergi menyendiri untuk mendapatkan hidayah dan dari Tuhan. Namun pada akhirnya ia dihadapi oleh situasi yang sangat sulit, sehingga ia dikalahkan oleh rasa kemanusiaanya yang bertentangan dengan agama dan kebenaran yang ia percayai selama ini. Betapa bejat moral seorang tokoh ayah dalam cerpen “Datangnya Dan Perginya” membiarkan sebuah kehidupan menjadi satu keluarga dalam ikatan pernikahan yang dilandasi oleh perkawinan sedarah. Di sini ada persoalan kemanusiaan yang diangkat. Jadi AA Navis tidak menginginkan penulisan cerpen itu selalu berbicara tentang percintaan pada umumnya. Tapi walau demikian, penggambaran watak yang ekstrim justru datang dari Iyah, mantan istrinya yang rela menanggung beban dosa seperti masalah yang dihadapi sekarang. Ia beranggapan bahwa urusan dosa adalah urusan akhirat. Kalau masalah yang menyangkut tentang dunia harus diselesaikan di dunia. Ini adalah tindakan yang mengenyampingkan nilai-nilai agama. Dan sepertinya nilai manusia sangat dijunjung tinggi dari pada nilai agama. Seperti membeli sebuah kebahagian dengan dosa yang sangat besar. Sesungguhnya melalui cerpen berjudul “DATANGNYA dan PERGINYA” AA Navis ingin mengatakan kepada kita bahwa tidak selamanya orang yang sangat patuh terhadap agamanya akan selalu menjalankan apa ia yakini dalam agamanya. Dalam kondisi mendesak, bisa saja nilai kemanusiaan yang lebih diutamakan daripada nilai agama. Itulah salah satu contoh perbuatan yang mengandalkan kebahagiaan walau berakibat dosa besar karena lebih mementingkan urusan dunia daripada urusan akhirat. Cerpen Datangnya Dan Perginya karya A.A. Navis ini begitu menarik untuk dibaca karena pembaca dapat merasakan kekecewaan dan penyesalan seperti yang tertulis di dalam cerita. Dalam analis gaya kata, cerpen ini menggunakan kata serapan bahasa asing dan bahasa daerah untuk memperkuat jalannya cerita. Gaya kosakata dalam cerpen ini banyak sekali ditemukan kata-kata yang bernilai religi.

Daftar pustaka
http://shawolmyword.blogspot.com/2012/11/contoh-kritik-sastra-cerpen.html
http://shawolmyword.blogspot.com/2012/11/contoh-kritik-sastra-cerpen.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar